Katarak merupakan penyebab utama kebutaan. Data global menunjukkan, jumlah penderita katarak di seluruh dunia mencapai lebih dari 100 juta orang pada tahun 2020. Dari jumlah itu, 17 juta di antaranya mengalami kebutaan. Apa saja jenis katarak dan bagaimana cara menyembuhkannya?
Mengenal jenis-jenis katarak akan membuat kita tahu bahwa penyakit mata ini tidak hanya menyasar usia tua. Meskipun memang lebih umum terjadi pada orang tua, katarak juga dapat ‘menjangkiti’ individu dari segala usia.
Daftar Isi
Apa itu katarak
Katarak adalah kondisi mata di mana lensa alami mata menjadi keruh, yang menyebabkan penglihatan kabur atau berkabut.
Jadi, penyakit mata ini sumbernya adalah lensa mata yang keruh. Pada mata yang normal, lensa mata dalam kondisi transparan. Bagian mata yang terletak di belakang iris ini berfungsi mengatur fokus cahaya yang masuk dan memantulkannya ke retina.
Lensa yang transparan membuat mata bisa melihat suatu objek dengan jelas. Sebaliknya, ketika kondisinya keruh, maka penglihatan menjadi tidak jelas alias kabur atau tampak berkabut.
Jenis Katarak
Ada delapan jenis katarak yang masing-masingnya memiliki gejala dan patofisiologi berbeda. Berikut ini penjelasannya satu per satu secara singkat.
Katarak Nuklear (Katarak Inti)
Katarak nuklear adalah jenis katarak yang paling umum dan biasanya berkembang seiring bertambahnya usia. Katarak ini mempengaruhi inti atau pusat lensa.
Gejala:
Gejala awal termasuk pandangan kabur dan peningkatan miopia (rabun jauh), yang bisa membuat penderita katarak nuklear merasa bahwa penglihatan dekat mereka membaik sementara. Namun, seiring waktu, pandangan menjadi semakin kabur dan sulit untuk dilihat pada kondisi cahaya rendah.
Patofisiologi:
Degenerasi dan kekuningan inti lensa terjadi akibat akumulasi protein yang mengalami perubahan struktur. Oksidasi protein lensa dan perubahan dalam konsentrasi elektrolit juga berperan dalam proses ini.
Katarak Kortikal
Katarak kortikal berkembang di korteks, yaitu bagian luar lensa. Katarak ini biasanya dimulai sebagai opasitas berbentuk baji yang muncul pada tepi luar lensa.
Gejala:
Penderita sering melaporkan silau (glare) dan penglihatan ganda pada satu mata (monokular diplopia). Gejala ini lebih jelas pada malam hari atau ketika melihat lampu terang.
Patofisiologi:
Degenerasi serat lensa kortikal menyebabkan pembentukan celah dan spasi yang kemudian terisi dengan protein lensa terdenaturasi. Hal ini menciptakan area keruh yang menyebar dari perifer ke pusat.
Katarak Subkapsular Posterior
Katarak subkapsular posterior terjadi di belakang lensa, tepat di depan kapsul posterior. Jenis ini sering berkembang lebih cepat daripada jenis katarak lainnya.
Gejala:
Penglihatan dekat (seperti membaca) lebih cepat terganggu. Penderita juga sering mengalami silau yang parah dan penglihatan buram dalam cahaya terang.
Patofisiologi:
Sel epitel lensa bermigrasi ke belakang lensa dan membentuk kelompok-kelompok sel yang tidak normal. Ini menghasilkan plak keruh yang menghalangi jalannya cahaya ke retina.
Katarak Kongenital
Katarak kongenital hadir saat lahir atau berkembang selama masa bayi. Katarak ini dapat mempengaruhi satu atau kedua mata dan sering kali terkait dengan kondisi genetik atau infeksi ibu selama kehamilan.
Gejala:
Gejala katarak kongenital termasuk refleks pupil putih (leukokoria), nistagmus, atau strabismus. Penglihatan yang buruk pada anak dapat menyebabkan perkembangan penglihatan yang tidak sempurna (ambliopia).
Patofisiologi:
Penyebab bervariasi termasuk faktor genetik, infeksi intrauterin (seperti rubella atau cytomegalovirus), atau sindrom metabolik. Protein lensa yang tidak terbentuk dengan benar menyebabkan opasitas.
Katarak Traumatik
Katarak traumatik terjadi akibat cedera mata, baik dari trauma tumpul atau penetrasi. Cedera ini bisa menyebabkan kerusakan pada lensa yang mengakibatkan pembentukan katarak.
Gejala:
Gejala bisa muncul segera atau beberapa tahun setelah cedera. Penglihatan buram dan nyeri adalah gejala umum.
Patofisiologi:
Trauma fisik menyebabkan disrupsi kapsul lensa, pecahnya serat lensa, dan peradangan yang dapat mempercepat kerusakan protein lensa. Cedera juga bisa menyebabkan masuknya cairan ke dalam lensa yang mempercepat opasitas.
Katarak Sekunder
Katarak sekunder adalah opasitas lensa yang terjadi setelah operasi katarak awal atau sebagai akibat dari penyakit lain, seperti diabetes atau uveitis.
Gejala:
Pada jenis katarak ini, pasien sering melaporkan penglihatan buram yang mirip dengan katarak primer. Gejala juga tergantung pada penyebab dasar katarak sekunder.
Patofisiologi:
Sel epitel lensa yang tersisa setelah operasi katarak dapat bermigrasi dan berproliferasi, membentuk opasitas pada kapsul posterior (opasitas kapsul posterior). Penyakit sistemik atau inflamasi meningkatkan risiko perubahan lensa sekunder.
Katarak Radiasi
Katarak radiasi disebabkan oleh paparan radiasi, baik dari terapi radiasi untuk kanker atau paparan radiasi yang tidak disengaja.
Gejala:
Gejala berkembang secara bertahap dan meliputi pandangan kabur serta silau.
Patofisiologi:
Radiasi menyebabkan kerusakan langsung pada DNA sel lensa dan menginduksi perubahan oksidatif. Ini mengarah pada agregasi protein lensa dan pembentukan opasitas.
Katarak Toksik
Katarak toksik merupakan jenis katarak yang berkembang sebagai hasil dari paparan obat-obatan tertentu atau bahan kimia yang merusak lensa.
Gejala:
Gejala bergantung pada jenis dan durasi paparan, tetapi umumnya termasuk penglihatan kabur dan silau.
Patofisiologi:
Obat-obatan seperti kortikosteroid dan bahan kimia tertentu dapat mengganggu metabolisme lensa, menyebabkan akumulasi protein yang tidak larut dan pembentukan opasitas.
Baca juga: Mata Kuning
Cara Menyembuhkan Katarak
Seperti disinggung di atas, katarak ini sumbernya adalah lensa mata yang keruh. Berbeda dengan kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) yang bisa dikoreksi dengan kacamata, katarak tidak bisa. Kacamata secanggih apa pun tidak bisa membuat pandangan kabur akibat katarak menjadi jelas.
Demikian pula, katarak tidak bisa sembuh dengan obat-obatan baik farmasi maupun herbal. Sebab tidak ada obat baik farmasi maupun herbal yang terbukti secara klinis bisa menghilangkan kekeruhan pada lensa mata.
Hingga saat ini, katarak hanya bisa disembuhkan dengan operasi katarak. Yakni operasi pengangkatan lensa yang keruh dan penggantian dengan lensa intraokular (IOL). Untuk saat ini, setidaknya ada tiga pilihan teknik operasi katarak. Berikut ini penjelasan singkat beserta keunggulan dan kekurangan masing-masing teknik operasi.
ECCE
ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) atau Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular merupakan metode operasi katarak di mana sebagian besar lensa mata diangkat, namun sebagian kecil dari kapsul lensa ditinggalkan untuk menopang lensa intraokular (IOL) buatan.
Keunggulan:
- Cocok untuk katarak matang atau keras.
- Prosedur yang lebih mudah dipelajari dan dilakukan di berbagai kondisi.
Kekurangan:
- Pemulihan lebih lama dibandingkan dengan teknik modern.
- Risiko infeksi lebih tinggi karena sayatan yang lebih besar.
SICS
SICS (Small Incision Cataract Surgery) atau Ekstraksi Katarak Manual Kecil Insisi adalah teknik yang lebih baru dan lebih canggih daripada ECCE, dengan sayatan yang lebih kecil untuk mengurangi komplikasi dan mempercepat pemulihan.
Keunggulan:
- Sayatan lebih kecil (6-10 mm) mengurangi risiko infeksi dan mempercepat penyembuhan.
- Proses operasinya juga lebih singkat, sekitar 15-30 menit.
- Tidak memerlukan teknologi tinggi seperti fakoemulsifikasi, sehingga cocok untuk daerah dengan fasilitas terbatas.
Kekurangan:
- Teknik ini memerlukan keterampilan bedah yang lebih tinggi.
- Risiko astigmatisme akibat sayatan masih ada, tapi lebih rendah daripada ECCE.
Baca juga: Mata Sembab
Phacoemulsification
Phacoemulsification atau Fakoemulsifikasi adalah teknik operasi katarak yang paling modern dan populer. Ini menggunakan energi ultrasonik untuk menghancurkan lensa yang keruh sehingga dapat diangkat melalui sayatan kecil.
Keunggulan:
- Sayatan sangat kecil (2-3 mm) mengurangi waktu penyembuhan dan risiko infeksi.
- Prosedur cepat (10-15 menit) dengan pemulihan yang lebih cepat.
- Risiko astigmatisme yang lebih rendah karena sayatan kecil.
- Tanpa jahitan.
Kekurangan:
- Memerlukan peralatan dan teknologi canggih.
- Lebih mahal daripada ECCE dan SICS.
Nah, setelah mengetahui jenis katarak dan tiga teknik operasi katarak ini, mana yang Anda rekomendasikan? [KMU]











