Anisometropia adalah kondisi ketika kedua mata memiliki perbedaan dioptri yang cukup besar sehingga satu mata melihat lebih jelas, sementara mata lainnya lebih buram. Ketidakseimbangan ini bisa memicu sakit kepala, penglihatan kabur satu mata, hingga risiko amblyopia atau mata malas, terutama anisometropia pada anak.
Meski tidak sepopuler Mata Minus atau Silinder, dampaknya bisa sama serius karena otak otomatis memilih mata yang lebih tajam dan mengabaikan yang lebih lemah.
Kalau dibiarkan, kondisi ini bukan hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga dapat memicu gejala mata malas karena anisometropia (amblyopia), terutama pada anak-anak. Karena itu, penting untuk mengenali gejala sedini mungkin dan memahami pilihan pengobatannya.
Daftar Isi
Apa Itu Anisometropia?

Anisometropia adalah kondisi ketika kedua mata memiliki kekuatan refraksi yang berbeda cukup besar, biasanya lebih dari 1 dioptri. Perbedaan dioptri ini membuat kualitas penglihatan antara satu mata dan mata lainnya tidak seimbang, dan bila dibiarkan terutama pada anak dapat memicu amblyopia (mata malas).
Kondisi ini membuat penglihatan terasa tidak seimbang. Satu mata memberi gambar yang tajam, sedangkan mata lainnya menghasilkan penglihatan kabur satu mata atau ukuran gambar tampak berbeda (lebih kecil atau lebih besar), atau dikenal sebagai aniseikonia.
Dalam praktik klinis, terdapat konsep โtoleransi lensa anisometropiaโ, yaitu seberapa jauh perbedaan dioptri yang masih bisa ditoleransi otak dan sistem penglihatan tanpa menimbulkan keluhan berat. Penelitian menunjukkan perbedaan kecil (sekitar < 2 Dioptri) kadang masih bisa diadaptasi, tetapi di atas itu risiko keluhan seperti sakit kepala, lelah mata, dan gangguan fusi gambar semakin tinggi.
Baca Juga:
โ Biaya Operasi Katarak 2025
โ Operasi Katarak Gratis 2025
โ Biaya Pemeriksaan Mata 2025
Jenis-Jenis Anisometropia
Secara garis besar, kondisi ini dapat dikelompokkan menjadi:
1. Berdasarkan Berat Ringannya
- Ringan: perbedaan โค 2 dioptri
- SedangโBerat: perbedaan > 2 dioptri
Pada perbedaan kecil, sebagian orang hampir tidak merasa keluhan karena toleransi lensa mereka cukup baik. Namun begitu selisih dioptri membesar, keluhan biasanya mulai terasa.
2. Berdasarkan Jenis Kelainan Refraksi Absolut
- Anisometropia absolut sederhana (simple):
Satu mata normal, mata lain mengalami Miopi (rabun jauh) atau Hipermetropi (rabun dekat). - Anisometropia absolut gabungan (compound):
Kedua mata sama-sama Miopi atau sama-sama Hipermetropia, tetapi derajat minus/plus berbeda cukup jauh. - Anisometropia absolut campuran (mixed / antimetropia):
Satu mata Miopi, mata lainnya Hipermetropi. Kombinasi ini cukup menantang bagi sistem penglihatan karena otak harus beradaptasi dengan dua jenis fokus yang sangat berbeda.
3. Berdasarkan Komponen Silinder (Anisometropia Relatif)
- Relatif sederhana:
Satu mata normal, satu mata punya Astigmatisme (Silinder) dengan atau tanpa Miopi/Hipermetropi. - Relatif gabungan:
Kedua mata memiliki Astigmatisme, tetapi dengan sumbu atau kekuatan Silinder yang berbeda.
Gejala Anisometropia yang Perlu Diwaspadai
Gejalanya sendiri bisa sangat bervariasi. Beberapa orang nyaris tidak merasa apa-apa, sementara yang lain cukup terganggu dalam aktivitas harian. Secara umum, keluhan yang sering muncul antara lain:
- Penglihatan kabur satu mata atau terasa beda jauh dengan mata lainnya.
- Objek terlihat berbeda ukuran antara satu mata dan mata yang lain.
- Mata cepat lelah saat membaca atau bekerja di depan layar.
- Mata terasa nyeri atau pegal.
- Penglihatan ganda (diplopia) pada beberapa kondisi.
- Sakit kepala karena anisometropia, terutama setelah fokus lama pada jarak dekat.
- Sensasi pusing, mual, atau rasa melayang karena otak dipaksa menyatukan dua kualitas gambar yang berbeda.
Pada anak, tanda-tanda kelainan mata ini bisa lebih halus, misalnya:
- Sering memiringkan kepala ketika melihat.
- Menyipitkan salah satu mata.
- Sulit fokus di kelas, tampak sering ketinggalan pelajaran.
- Anak lebih sering memakai satu mata (menutup satu mata saat melihat jauh atau membaca).
Jika kondisi ini tidak terdeteksi dan dikoreksi pada masa perkembangan penglihatan, otak cenderung memilih satu mata yang lebih jelas dan mengabaikan mata lainnya. Inilah yang kemudian bisa berujung pada Ambliopia (mata malas).
Baca juga:
– Obat Mata Gatal
– Uveitis
– Minat Lasik? Ini List Dokter Lasik Yang Bisa Kamu Pilih
Penyebab Anisometropia

Pada umumnya, kelainan mata yang satu ini sebenarnya bersifat kongenital. Yakni dalam masa pertumbuhan kedua mata, kekuatan refraksinya tidak berkembang sama. Namun, bisa juga karena trauma yang menyebabkan Katarak traumatika dan kerusakan pada Kornea.
Sebagian ahli juga mengatakan salah satu penyebab Anisometropia adalah faktor genetik. Jadi, secara rinci ada tiga penyebab sebagai berikut:
- Faktor Genetik: Sebagaimana pada umumnya orang tua yang mengalami kelainan refraksi juga menurun kepada anaknya.
- Kongenital: Dalam masa pertumbuhan kedua mata, kekuatan refraksinya tidak berkembang sama.
- Didapat karena trauma atau cedera: Misalnya cedera mata saat menjalani Operasi Katarak atau operasi lensa mata.
Pilihan Pengobatan Anisometropia

Secara garis besar, pengobatan ini bertujuan untuk:
- Menyamakan kualitas fokus kedua mata (mengurangi perbedaan dioptri).
- Mengurangi keluhan seperti sakit kepala karena anisometropia dan penglihatan tidak seimbang.
- Mencegah atau menangani amblyopia (mata malas), terutama pada anak.
Pendekatannya bertahap dan disesuaikan usia, besar perbedaan dioptri, dan toleransi pasien terhadap koreksi optik.
1. Pengobatan dengan Kacamata
Kacamata adalah pilihan pertama dan paling umum. Resep kacamata disusun sesuai kebutuhan masing-masing mata sehingga perbedaan dioptri terkoreksi secara optimal.
Namun, pada anisometropia sedangโberat, kacamata bisa memunculkan:
- Perbedaan ukuran bayangan antara kedua mata (aniseikonia).
- Distorsi dan efek prisma yang membuat adaptasi lebih sulit.
- Keluhan seperti pusing dan sakit kepala pada fase awal pemakaian.
Di sinilah konsep toleransi lensa anisometropia menjadi penting. Terapi kadang dimulai dengan koreksi parsial, lalu dinaikkan bertahap agar otak dan sistem penglihatan dapat beradaptasi tanpa keluhan hebat.
2. Lensa Kontak untuk Anisometropia
Pada kasus anisometropia tinggi, lensa kontak untuk anisometropia sering memberikan hasil visual yang lebih nyaman dibandingkan kacamata, karena:
- Perbedaan ukuran bayangan di Retina berkurang.
- Lapang pandang lebih luas.
- Efek prisma lebih kecil.
Beberapa laporan kasus dan studi menyebutkan bahwa kombinasi kacamata dan lensa kontak lunak dapat membantu mengelola anisometropia tinggi dan mendukung keberhasilan terapi amblyopia.
Tentu, pemakaian lensa kontak harus dipertimbangkan dengan ketat mulai dari kebersihan, risiko infeksi, usia pasien (terutama pada anak), serta kemampuan orang tua untuk membantu perawatan lensa.
3. Bedah Refraktif Anisometropia
Pada kondisi tertentu, terutama bila:
- Perbedaan dioptri sangat besar.
- Pasien tidak mentoleransi kacamata atau lensa kontak.
- Terdapat amblyopia yang sulit ditangani dengan cara konvensional.
dokter dapat mempertimbangkan bedah refraktif anisometropia (Laser Vision Correction seperti PRK, LASIK, LASEK, ReLEx SMILE, atau implantasi lensa intraokular khusus).
Penelitian menunjukkan bahwa bedah refraktif pada kasus anisometropia tertentu dapat:
- Mengurangi perbedaan dioptri secara signifikan.
- Meningkatkan toleransi kacamata pascaoperasi.
- Membantu terapi amblyopia dan memperbaiki fungsi binokular pada sebagian pasien anak terpilih.
Prosedur ini tidak diberikan sembarangan. Dokter mata akan menilai ketebalan Kornea, stabilitas refraksi, usia, dan risiko jangka panjang sebelum merekomendasikan tindakan.
Kapan Harus ke Dokter Mata?
Segera lakukan konsultasi dokter mata jika Anda atau anak mengalami keluhan berikut:
- Penglihatan kabur satu mata yang menetap.
- Sering pusing atau sakit kepala (misalnya setelah membaca atau bekerja di depan layar).
- Anak tampak sulit mengikuti pelajaran di papan tulis atau sering memiringkan kepala.
- Riwayat keluarga dengan amblyopia, atau kelainan refraksi tinggi.
Jika Anda atau anak Anda mengalami penglihatan tidak seimbang, sering pusing, atau curiga mengalami anisometropia, jangan menunda pemeriksaan. Deteksi dini dapat mencegah mata malas (amblyopia) dan menurunkan risiko gangguan penglihatan jangka panjang.
Tonton juga video menarik tentang edukasi kesehatan mata disini!











