Katarak Senilis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Katarak dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis. Katarak senilis, katarak sekunder, katarak kongenital, dan katarak traumatik. Apa itu katarak senilis? Apa saja gejala dan penyebabnya serta bagaimana menyembuhkannya?

Sebelum kita bahas satu per satu, ada baiknya kita awali dari deskripsi singkat empat jenis katarak tersebut:

Jenis Katarak Deskripsi
Katarak Senilis Katarak yang muncul karena proses penuaan. Seperti rambut yang beruban ketika usia semakin tua, katarak jenis ini terjadi pada semua orang.
Katarak Sekunder Katarak yang muncul kembali setelah operasi katarak. Pandangannya sudah membaik tetapi kemudian kabur lagi. Bisa terjadi karena komplikasi dari penyakit lain seperti diabetes mellitus dan uveitis.
Katarak Kongenital Katarak “bawaan lahir”. Sejak lahir, bayi telah mengalami kekeruhan pada lensa matanya.
Katarak Traumatik Katarak yang timbul akibat cidera langsung maupun tidak langsung di mata, baik dalam waktu dekat, maupun bertahun-tahun kemudian.

Apa Itu Katarak Senilis

katarak senilis

Katarak adalah penyakit mata berupa keruhnya lensa mata sehingga penglihatan menjadi buram atau tampak berkabut. Katarak merupakan kelainan lensa mata di mana kondisinya tidak jernih lagi sebagaimana mestinya.

Katarak merupakan penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia maupun di dunia. Menurut data WHO pada 2002, di antara 37 juta penderita kebutaan di seluruh dunia, 17 juta di antaranya akibat katarak. Kabar baiknya, kebutaan akibat katarak ini mayoritasnya bisa disembuhkan (reversible blindness). WHO juga merilis, jumlah penderita  katarak pada tahun 2020 mencapai 94 juta orang.

Lalu, apa itu katarak senilis? Katarak senilis adalah katarak yang muncul karena proses penuaan. Seperti rambut yang beruban ketika usia semakin tua, katarak jenis ini terjadi pada semua orang. Semakin tua usia seseorang, lensa mata akan semakin berat dan tebal serta mengalami penurunan daya akomodasi.

Healthinaging melansir, sekitar 20 persen atau satu dari lima orang di atas 65 tahun terkena katarak. Risiko terkena penyakit mata ini meningkat menjadi 50 persen saat seseorang memasuki usia 80 tahun.

Gejala Katarak Senilis

Katarak senilis terjadi secara perlahan dan bertahap. Pada stadium awal, kekeruhan lensa masih tipis sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa ia terkena katarak. Semakin lama, kekeruhan akan semakin tebal sehingga menimbulkan berbagai gejala, antara lain:

  • Penglihatan kabur dan berkabut
  • Mata silau saat melihat cahaya yang terang
  • Penglihatan ganda atau berbayang
  • Sulit melihat jelas saat malam hari
  • Warna objek tampak pudar dan tidak cerah
  • Kesulitan saat menyetir karena pandangan tidak jelas seperti sebelumnya

Baca juga: Ciri-Ciri Katarak

Penyebab Katarak Senilis

Seperti disinggung pada penjelasan apa itu katarak senilis, penyebab katarak jenis ini adalah penuaan. Oleh karena itu, prevalensi katarak senilis jauh lebih besar daripada jenis lainnya.

Semakin tua usia seseorang (khususnya 40 tahun ke atas), lensa mata semakin berat dan tebal serta mengalami penurunan daya akomodasi. Lensa mata ini terdiri dari air dan protein. Protein tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga lensa mata berwarna jernih atau tembus pandang. Semakin tua usia seseorang, protein dan sel-sel mati akan menumpuk sehingga membentuk gumpalan pada lensa. Gumpalan tersebut kemudian membentuk awan keruh yang menutupi lensa dan menghalangi cahaya.

Semakin luas awan keruh menutupi lensa, penglihatan akan semakin kabur dan tampak berkabut. Kekeruhan lensa akibat penuaan inilah yang disebut age-related catarcat atau katarak senilis.

Selain penuaan sebagai penyebab utama, ada beberapa faktor risiko yang memicu terjadinya katarak senilis. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Penyakit metabolic seperti diabetes mellitus
  • Kebiasaan merokok dan minum minuman keras
  • Pola makan yang tidak sehat dan kurang gizi

Fase Katarak Senilis

Secara umum, katarak senilis memiliki empat fase berdasarkan tingkat kematangan katarak, yaitu:

Fase Deskripsi
Katarak imatur Fase awal, ditandai dengan perubahan warna lensa mata menjadi opak (keputihan) pada beberapa titik saja.
Katarak matur Ditandai dengan kondisi warna lensa sudah berubah seluruhnya menjadi opak.
Katarak hipermatur Fase lanjutan, ditandai dengan perubahan pada selaput depan lensa. Selaput menjadi berkeriput dan mengecil akibat keluarnya cairan dari dalam lensa.
Katarak morgagni Fase akhir katarak akibat penuaan.

Katarak matur, hipermatur, dan morgagni bisa memicu timbulnya glaukoma. Pada tingkat matur, umumnya yang muncul adalah glaukoma sudut tertutup. Pada tingkat hipermatur dan katarak morgagni, yang muncul adalah glaukoma sudut terbuka.

Cara Mengobati Katarak Senilis

Atur Jadwal Konsultasi dan Bebaskan Keluhan Mata

Katarak hanya bisa disembuhkan dengan operasi guna mengganti lensa mata yang keruh dengan lensa baru yang jernih. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah katarak bisa sembuh dengan obat tetes mata baik farmasi maupun herbal. Demikian pula, belum ada bukti bahwa obat oral seperti tablet atau kapsul bisa menyembuhkan katarak.

Demikian pula dengan katarak senilis. Cara menyembuhkannya hanya dengan operasi katarak yang intinya adalah mengganti lensa mata. Setidaknya ada tiga teknik operasi katarak sebagai berikut:

1. ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction)

ECCE ini merupakan teknik operasi katarak konvensional. Pada operasi katarak ini, lensa dikeluarkan melalui sayatan selebar 8—10 mm. Teknik operasi ini membutuhkan waktu penyembuhan dan pemulihan yang cukup lama dibandingkan dua teknik lainnya.

2. SICS (Small Incision Cataract Surgery)

Teknik operasi SICS lebih canggih. Ia menggunakan jahitan dengan sayatan 6—10 mm. Proses operasinya juga lebih singkat, sekitar 15-30 menit. Jadi, SICS lebih cepat dan lebih nyaman daripada ECCE.

3. Phacoemulsification

Phacoemulsification merupakan operasi katarak tanpa jahitan. Ia lebih canggih daripada ECCE dan SICS. Pasien bisa pulih dan sembuh lebih cepat dengan operasi lebih nyaman.

Waktu operasi phacoemusification juga lebih cepat, yakni sekitar 10—15 menit. Selain operasinya lebih nyaman, waktu pemulihan (recovery) juga lebih singkat, yakni sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Dengan operasi ini, pasien juga bisa langsung pulang. [Mbk/KMU]

Referensi:
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
Universitas Indonesia Faculty of Medicine. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: UI Publishing; 2020
Sjamzu Budiono, dkk. Buku Ajar Ilmu Keshatan Mata. Surabaya: Airlangga University Press; 2013