Penyebab Mata Minus, Nomor 3 Banyak Menyerang Anak dan Remaja

Ditinjau oleh

RS & Klinik Mata KMU

Terakhir diperbaharui pada

20 December 2024

Bagikan

penyebab mata minus

Mata minus atau miopia semakin banyak kita jumpai. Bukan hanya pada orang dewasa tetapi juga anak-anak dan remaja. Angkanya terus naik, terlebih pascapandemi, seiring penggunaan gadget yang semakin intens. Muncul pertanyaan besar, apakah penggunaan gadget juga merupakan penyebab mata minus alias miopia?

Hasil observasi yang dilakukan Gerakan Mata Sehat (Gemas) di beberapa sekolah menunjukkan, sekitar 30% anak usia SD mengalami kelainan refraksi. Sedangkan anak usia SMP, persentasenya lebih besar yakni mencapai 40%. Kelainan refraksi yang paling sering terjadi adalah mata minus (miopia).

Jumlah anak-anak dan remaja yang mengeluhkan gangguan penglihatan juga bertambah. Semakin banyak anak dan remaja yang datang ke klinik atau rumah sakit mata dan setelah penegakan diagnosis, mereka mengalami kelainan refraksi utamanya mata minus.

Jadi, apa penyebab mata minus hingga jumlahnya semakin banyak? Mengapa pula kini lebih banyak anak-anak dan remaja yang mengalaminya?

Apa itu mata minus?

Mata minus atau miopia adalah kelainan refraksi yang menyebabkan penderitanya tidak dapat melihat suatu objek dari jarak jauh dengan jelas.

Pengertian lebih spesifik, mata minus adalah keadaan refraksi mata di mana dalam keadaan mata istirahat (tanpa akomodasi), seberkas cahaya sejajar yang berasal dari objek jarak jauh akan difokuskan pada satu titik fokus di depan retina. Akibatnya, objek tersebut tampak tidak jelas.

Penyebab mata minus

Mata minus terjadi karena bola mata yang terlalu panjang (lonjong), kecembungan kornea, atau kecembungan lensa sehingga mengakibatkan bayangan jatuh pada titik fokus di depan retina. Apa saja yang mempengaruhi panjangnya bola mata melebihi ukuran normal, inilah yang sering kita istilahkan penyebab mata minus. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain lima hal sebagai berikut:

Faktor genetik

Salah satu penyebab utama mata minus adalah faktor genetik. Jika orang tua atau saudara kandung mengalami miopia, kemungkinan besar kamu juga akan mengalaminya.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko mata minus meningkat jika kedua orang tua mengalami kondisi ini. Gen yang terkait dengan pertumbuhan bola mata dan fokus lensa mata dapat diwariskan, yang menyebabkan predisposisi genetik terhadap miopia.

Kebiasaan membaca yang tidak tepat

Kebiasaan membaca yang tidak tepat juga bisa menjadi penyebab mata minus. Misalnya, membaca terlalu dekat dalam waktu yang lama. Atau, membaca dalam kondisi kurang pencahayaan.

Baik membaca terlalu dekat maupun kurang pencahayaan, keduanya membuat mata lebih keras berakomodasi. Akomodasi mata yang terlalu keras dan terus berulang memaksa ketegangan otot siliaris pada lensa mata dan bisa membuat panjang bola mata meningkat.

Pada pelajar dan mahasiswa, kebiasaan membaca terlalu dekat dan kurang pencahayaan ini sering terjadi sehingga wajar jika kasus mata minus di kalangan mereka jumlahnya bertambah.

Di sinilah penitngnya mengatur posisi dan jarak saat membaca. Membaca dalam jarak yang terlalu dekat atau dengan pencahayaan yang buruk dapat menyebabkan mata lelah dan meningkatkan risiko mata minus. Sebaiknya, usahakan untuk menjaga jarak baca sekitar 30-40 cm dari buku dan pastikan pencahayaan cukup terang tetapi tidak menyilaukan.

Baca juga: Ambliopia

Penggunaan gadget yang berlebihan

Penggunaan gadget dalam waktu yang lama dan tanpa jeda juga meningkatkan risiko miopia. Bahkan, di era digital ini, faktor ketiga menjadi lebih sering menjadi penyebab mata minus daripada faktor kedua.

Banyak di antara anak-anak dan remaja yang mengalami mata minus ternyata adalah pengguna berat gadget. Mereka menggunakan gadget dalam waktu yang lama dan tanpa jeda terutama untuk main game. Sekali main game bisa lebih dari satu jam bahkan bisa berjam-jam tanpa jeda. Intensitasnya juga tidak hanya sekali dalam sehari.

Ketika seseorang main game dalam waktu yang lama, ia memaksa ketegangan otot siliaris pada lensa mata dan bisa membuat panjang bola mata atau kecembungan lensa mata meningkat. Ini yang menjelaskan mengapa ada anak atau remaja yang kedua orang tuanya tidak mengalami mata minus tetapi ia mengalaminya.

Memang, pada era digital ini, kita tidak bisa lepas dari gadget. Demikian pula kalangan remaja dan mahasiswa. Untuk komunikasi, kita membutuhkan gadget. Tugas sekolah apalagi tugas kuliah, terkadang juga membutuhkan gadget. Hiburan juga wajar menggunakan gadget.

Yang perlu untuk kita lakukan adalah mengatur penggunaannya. Mata kita butuh istirahat setelah fokus dalam waktu yang lama. Teknik 20-20-20 bisa sangat membantu: setiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Ini membantu mata untuk rileks dan mengurangi ketegangan.

Baca juga: Jarak Pandang Mata dengan Komputer

Kurangnya aktivitas di luar ruangan

Kurangnya aktivitas di luar ruangan juga berhubungan dengan peningkatan risiko miopia. Sinar matahari alami membantu dalam pengembangan dan fungsi mata yang sehat.

Orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan -baik untuk sekolah, kuliah, bekerja, dan bersantai- lebih rentan terhadap mata minus. Apalagi jika terus menerus di dalam ruangan karena main game. Faktor risikonya menjadi dobel.

Paparan sinar matahari merangsang pelepasan dopamin di retina yang bisa membantu mencegah perpanjangan bola mata yang berlebihan. Selain itu, aktivitas di luar ruangan seperti olahraga juga membantu mata berfokus pada objek yang lebih jauh, mengurangi stres mata akibat fokus terus-menerus pada objek dekat.

Pola makan dan gaya hidup

Meskipun tidak terkait langsung dengan mata minus, pola makan dan gaya hidup bisa berpengaruh terhadap risiko kelainan refraksi ini. Terutama, vitamin D. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seseorang yang mengalami kekurangan vitamin A dan D berisiko mengalami mata minus.

Karenanya, penting untuk menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat dalam rangka menjaga kesehatan mata. Asupan nutrisi yang seimbang, khususnya terpenuhinya vitamin A dan D bisa mengurangi risiko mata minus.

Baca juga: Ciri-ciri Mata Katarak

Menyembuhkan mata minus

Setelah mengetahui apa itu penyebab mata minus, penting juga mengetahui bagaimana mengatasi atau menyembuhkan mata minus. Hingga saat ini, tidak ada herbal maupun obat yang terbukti secara klinis bisa menyembuhkan mata minus. Sebab, seperti penjelasan di atas, penyebab mata minus adalah bola mata yang terlalu panjang (lonjong), kecembungan kornea, atau kecembungan lensa.

Cara yang terbukti secara klinis adalah dengan koreksi menggunakan kacamata atau lensa kontak. Lensa yang tepat akan membuat minus menjadi netral sehingga dengan memakai kacamata atau lensa kontak tersebut, pandangan jarak jauh menjadi jelas seperti mata normal.

Bagi kamu yang tidak mau memakai kacamata atau lensa kontak (mungkin karena berat atau mengganggu penampilan), ada cara lain yang bisa menyembuhkan mata minus secara permanen. Yakni dengan operasi laser mata alias LASIK. Secara umum ada tiga prosedur operasi laser mata ini yaitu PRK (Lasek), Femto LASIK, dan Zeiss SMILE.

Terkadang ada pula yang ingin bebas kaca mata tetapi tidak mau operasi. Tenang, sekarang juga ada cara lainnya seperti Orthokeratology (Ortho-K). Yakni terapi mata minus tanpa operasi. [KMU]

Lokasi kami

Klinik Mata KMU Madura
Ruko Khayangan, Jl. Halim Perdana Kusuma, Manggisan, Burneh, Kec. Bangkalan, Madura, Jawa Timur 69121
Klinik Mata KMU Trenggalek
Jl. Pahlawan Raya, Sukobanteng, Karangsoko, Trenggalek, Jawa Timur 66318
Ruang Edukasi
Jl. Perum Pondok Mutiara No. L 12, Banjarbendo, Sidoarjo, Jawa Timur 61213, Indonesia
Patient-Counseling
Ruko Permata, Kav. 34, 35, 37, Sidokumpul, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62212, Indonesia
Klinik Mata KMU Gresik
Jl. Sumatra No.27F, Kebomas, Gresik, Jawa Timur 61121, Indonesia
RS Mata KMU
Jl. Raya No.181, Wahyu, Plosowahyu, Kec. Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62218